Terima Kasih Kesalahan

Penulis : H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc.

KotaSantri.com : Membaca judul di atas, dapat diperkirakan akan membuat kening anda berkerut selaras diikuti dengan pertanyaan, “Apa maksudnya penulis membuat judul demikian?” Ya, judul di atas memang demikian. Tidak salah. Alasannya, bahwa banyak peristiwa yang terjadi pada diri kita berasal dari kesalahan, namun bisa membuat kita bahagia pada akhirnya. Artinya, kesalahan bisa berubah menjadi kunci untuk meraih kesuksesan dan keberhasilan. Contoh yang paling ramah dalam kehidupan kita, yaitu saat pertama kali belajar jalan. Nyaris tidak ada seorang pun manusia saat pertama kali berjalan tidak terjatuh dan tidak melakukan kesalahan. Karena kesalahan tersebut membuat ia terus berusaha untuk tidak salah, dan akhirnya dapat berjalan dengan baik.

Tapi, acapkali paradigma kita mengklaim bahwa salah selalu berkonotasi negatif dan layak mendapatkan hukuman. Alasannya, hanya karena kita selalu menilai secara langsung terhadap hasil yang dicapai dan berpegang pada sifat manusia yang ingin sempurna. Padahal, sejarah membuktikan bahwa manusia ada di bumi ini juga disebabkan kesalahan. Benar, kisah nabi Adam dan buah khuldi adalah sejarahnya. Hanya gara-gara terbujuk rayu iblis untuk memakan buah khuldi, membuat Nabi Adam dan Siti Hawa terusir dari surga. Ini kesalahan, bukan? Tapi, kesalahan inilah yang menyebabkan nabi Adam berusaha memohon ampunan Allah. Skenario Allah pun menunjukkan bahwa Allah Maha Pengampun dan Adam AS berhasil meraih “kesuksesan” ampunan Allah setelah melakukan kesalahan dan terus bertobat. Jadi, tidak benar bahwa salah itu selalu berkonatasi negatif dan seakan-akan tidak dapat berubah. Bukankah memang kodrat manusia menjadi tempat salah dan lupa (mahalul khata’ wa nisyan)?

***

Memahami Defenisi Salah

Andaikan belum bisa merubah paradigma bahwa salah tidak statis berkonotasi negatif, alangkah baiknya jika segera memahami defenisi salah. Menurut Daryanto S.S, salah adalah lawan dari benar (1997). Jadi, salah bukan berarti tidak dapat berubah menjadi benar. Salah bisa berubah menjadi benar, jika terus berusaha merubahnya diiringi dengan mengasah kemampuan untuk bisa menjadi benar. Andaikan salah tetap dinilai dengan konotasi negatif dan tidak dapat ‘disulap’ menjadi benar, akan lahir sifat hipokrit di muka bumi ini. Yaitu, sifat bermuka dua; sering melakukan kesalahan sembunyi-sembunyi dan tidak mau mengakuinya di depan publik. Inikan sangat berbahaya, bukan?

Sekali lagi, kesalahan dapat ‘disulap’ menjadi kesuksesan atau keberhasilan. Bahkan begitu banyak bukti sejarah menjelaskannya. Misalnya saja kesalahan Gutenberg, penemu mesin cetak. Andaikan Gutenberg tidak melakukan kesalahan saat itu, mungkin saat ini kita akan cukup kelelahan jika ingin membuat selebaran atau mencetak buku. Pada mulanya, orang-orang mencetak lembaran tulisan dengan diukir pada sebuah papan kayu. Yaitu, huruf-huruf diukir dengan terbalik, lalu diolesi tinta. Setelah tinta rata pada permukaannya, papan itu ditekankan pada lembaran-lembaran kertas. Suatu ketika, Gutenberg mengukir sebuah balok kayu dengan serius. Ia hanya perlu mengukirkan beberapa huruf lagi sebelum menyelesaikan ukiran untuk satu halaman. Ternyata, ada satu huruf yang salah. Ghalibnya, kesalahan satu huruf mengharuskan untuk mengulang ukiran dari awal pada sebuah kayu yang baru. Tapi, Gutenberg mencoba berpikir untuk mencari jalan lain yang mungkin lebih ringan. Ia mencoba mencungkil huruf yang salah dan menggantikannya dengan huruf yang benar, yang ia buat pada sebuah keping kayu kecil. Gara-gara keping kayu kecil itu, ia akhirnya mempunyai ide untuk membuat lembaran tulisan tidak perlu lagi mengukir tulisan pada balok kayu baru, tapi ia tinggal menggabungkan keping-keping huruf dan mencopotnya kembali ketika selesai mencetak. Dengan kemajuan jaman, akhirnya berubah dari keping kayu menjadi keping logam, hingga akhirnya tercipta mesin linotype.

***

Langkah “Menyulap” Kesalahan

Lantas, langkah apa saja yang harus dilakukan setelah kita melakukan kesalahan? Hanya tiga langkah yang segara kita lakukan agar dapat menyulap kesalahan dan segera mendapatkan kesuksesan. Pertama, Akui kesalahan. Mengakui kesalahan merupakan bukti bahwa ada potensi untuk tidak melakukan lagi. Potensi ini cukup prima untuk mengarahkan diri menjadi manusia sukses. Lihat Thomas Alfa Edison. 1.500 kali ia melakukan kesalahan hingga akhirnya menemukan bola lampu. Dengan berkali-kali salah, ia memiliki potensi untuk tidak salah di tempat yang sama dan selalu menjadikan tempat kesalahan itu sebagai jembatan untuk menemukan bahan yang pas untuk menghasilkan sebuah lampu.

Kedua, maafkan kesalahan. Artinya, jika kesalahan terjadi, segara memaafkan. Tidak perlu menjadi rakyat Jepang, saat salah, langsung menghukum diri dengan menghilangkan nyawa. Allah saja Maha Pemaaf, kenapa kita tidak? Perhatikan kembali bagaimana Nabi Adam AS diberi kemaafan oleh Allah akibat kesalahannya. Setelah itu, tidak sedikit pun Nabi Adam melakukan kesalahan. Karena Ia tahu bahwa kesalahan yang lalu telah membuat dirinya tersiksa. Dan setelah mendapatkan ‘kesuksesan’ maaf, ia tidak menyalahkan dirinya terus menerus, tapi semangat untuk terus menjaga dirinya agar tidak salah lagi. Dengan kata lain, nabi Adam AS juga memaafkan dirinya sendiri.

Ketiga, install ulang diri kita. Meminjam istilah Rheinal Kasali dalam bukunya yang berjudul “Change”, “Sejauh apa pun kamu melangkah, berbaliklah!”. Menarik, bukan! Hidup ini bukan seperti main catur. Setelah melangkah tidak boleh mengulanginya lagi. Dalam hidup ini, cukup banyak fasilitas yang bisa membuat hidup dapat bahagia dan sukses. Cari dan install diri untuk mendapatkan fasilitas itu. Masih segar dalam ingatan kita petinju yang bernama Muhammad Ali. Sebelum Islam, ia terkenal sebagai orang yang arogan. Setiap kali dapat menumbangkan lawannya, ia selalu berteriak, “Akulah yang Agung!” Ia selalu menjelma menjadi manusia angkuh. Setelah masuk Islam, ia berubah 180 derejat. Ia segera menginstall dirinya dengan ‘program-program’ yang ada dalam Islam. Ia rubah sikap arogannya menjadi sikap rendah hati. Ia selalu abdikan dirinya untuk kesejahteraan manusia. Ia sumbangkan kekayaannya untuk membantu orang-orang yang menderita.

Karena itu, ayo kembali semangat hidup. Jangan terus menyesali kesalahan yang terjadi dan jangan nilai salah dengan paradigma yang semu. Salah bisa ‘disulap’ menjadi kesuksesan. Kesalahan bukan di tempat yang sama bukanlah kegagalan, tapi hanya langkah untuk meraih ‘bahan’ kesuksesan. Don’t judge the book from its cover.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: